Slide show

[Horror][slideshow]

Kisah Misterius Bapak Soeharto, Memiliki 1000 Dukun Yang Setia, 2000 Benda Pusaka, dan Kenal dengan Dunia Mistic

Bapak Presiden RI ke 2 yaitu Soeharto, Tokoh yang dikenal sebagai bapak pembangunan nasional dan telah menjabat sebagai Presiden selama 32 tahun ini memang menyimpan ribuan misteri yang patut kita perdebatkan.

Pak Harto lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921 silam. Pak Harto dilahirkan dari sebuah keluarga Jawa yang sederhana. Ayahnya bernama Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro dan ibunya bernama Sukirah. Sebagai seorang pria Jawa, Pak Harto menganut falsafah Jawa dalam menjalani hidupnya. 

Pak Harto itu orang yang tidak suka membaca, dia juga tidak suka menulis. Tapi ada satu kehebatannya yang membentuk dia menjadi manusia otentik dan mampu menguasai manusia lain, menguasai sistem masyarakat. Pak Harto menjalani laku tapa meneng. Atau meditasi diam. Dia melatih meditasi diam, ini jenis pelatihan meditasi tingkat tinggi yang amat berat. Ilmu Meneng ini didapatkan pada tahun 1936 dari Kyai Daryatmo, saat itu Harto mengalami titik terendah dalam kehidupannya, terutama soal orang tuanya. Ia terlahir dengan suasana batin yang sakit hati dan sepi dari rasa cinta.

Suatu malam ia dibawa pamannya ke rumah Kyai Daryatmo, dari sanalah ia kemudian belajar banyak tentang falsafah Jawa. Kata-kata : Ojo Lali, Ojo Kagetan dan Ojo Dumeh adalah fase-fase pengalaman batin yang harus ia lalui sebelum sampai pada tingkatan meneng.

Pak Harto juga menjalankan sejumlah tradisi Jawa yang dipercayainya yaitu Klenik adalah sesuatu yang tersembunyi atau hal yang dirasahasiakan untuk umum. Dalam kultur Jawa ada ilmu yang disebut ilmu tua. Yaitu, ilmu yang diajarkan kepada mereka yang sudah matang dalam kesadarannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak disalahgunakan, atau disalahartikan. Ilmu yang demikian ini adalah klenik.Kabar �keakraban� Soeharto dengan hal-hal klenik bisa dibuktikan dengan banyaknya ia memiliki benda-benda pusaka. Sekitar 2000 pusaka yang dimiliki Soeharto (Ki Ageng Pamungkas). Salah satunya yang digunakan adalah Keris Keluk Kemukus, �ujar paranormal Ki Ageng Selo, dukun yang kerap disebut sebagai penasihat spiritual Soeharto, sebagaimana dikutip dari majalah Misteri (1998). Konon, menurut Ki Ageng Selo, Keris Keluk Kemukus merupakan pusaka yang sangat ampuh. Bila dicabut dari warangka (sarung)-nya, maka pemegang pusaka itu bisa menghilang. Begitu pula kebalikannya, bila disarungkan kembali, maka si pemegangnya akan kelihatan kembali.

Hasil gambar untuk benda pusaka soeharto

Benda-benda pusaka itu juga termasuk batu-batuan yang memiliki kekuatan gaib. Menurut paranormal Ki Edan Amongrogo, seorang paranormal kondang pada masa Orde Baru, Soeharto memiliki batu mirah delima yang telah banyak secara spiritual dalam melakukan tugas-tugasnya selama dia menjabat sebagai presiden (Liberty, 1-10 Juni 1998).

Sementara soal hubungannya dengan dukun, kalangan paranormal mengatakan, Soeharto memiliki 1000 dukun yang setia membantunya. Dukun-dukun itu tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Tapi jumlah sebanyak itu tidak dibenarkan oleh Ki Ageng Selo. Ia memperkirakan, selama menjabat, Soeharto hanya memiliki 200 dukun yang secara aktif membantunya (Gelanggang Rakyat, 18 Oktober 1998). Saking akrabnya Soeharto dengan dukun, ada seorang paranormal yang meramalkanlengsernya Soeharto akan terjadi bila paranormal andalannya meninggal. Eyang Tomo, paranormal andalan Soeharto sebelum meninggal pada 15 Januari 1998 mengatakan, kalau nanti saya lengser, maka Soeharto juga pasti akan lengser, tutur Ki Gendheng Pamungkas (Gelanggang Rakyat, Minggu Legi, 18 Oktober 1998).

Tempat keramat yang sering dikunjungi Soeharto antara lain adalah Jembe Pitu Cilacap dan Gunung Selok di sekitar Gunung Srandil. Selain itu juga disebut-sebut nama Gunung Kemukus, Gunung Arjuno dan lain-lain. Apa yang dilakukan Soeharto di tempat-tempat itu? Tentunya ia melakukan tapabrata, nyepi atau semedi. Ia berkomunikasi dengan kekuatan supranatural dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan agar maksud dan keinginannya bisa terlaksana. Dan, dalam interaksi tersebut, konon ada perjanjian-perjanjian soal adanya tumbal (imbalan bagi kekuatan gaib) yang dimintai tolong Soeharto untuk menjaga kekuasaannya di bumi Indonesia.

Misteri �Diamnya� Suharto 

Ada cerita menarik ketika Pak Harto ingin masuk KNIL. Ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito.

Sukardjo bercerita, �Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.�

�Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu� katanya kepada Sukardjo.

�Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali� jawab Sukardjo sambil mengerat tebu. �Penting sih tidak, cuma mau minta pamit�.

�Memang mau kemana sih mas?�

�Aku akan masuk Kumpeni,� kata Suharto.

�Sekolahan?�

�Aku sudah berhenti sekolah kok� Sukardjo heran lantas bertanya, �Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?�

Pak Harto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Pak Harto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang: Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan.

Sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno. Dan menurut pengakuannya, dia menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai Mayjen Panggabean. Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan. 

Tidak seperti Sukarno yang melibatkan dirinya dengan suasana hati manusia, maka Pak Harto mengalami kredo keterlibatannya justru pada alam. Pak Harto kemudian melatih ilmu meneng itu dalam segala bentuk meditasinya, ia diam, ia selalu memperhatikan, ia tidak pernah mengomentari apa-apa, ia hanya menuruti keadaan, karena keadaan akan membentuk dirinya sendiri dan keadaan yang terbentuk itu. �Hal terpenting dalam dirimu Harto, janganlah engkau menangis berlebihan, janganlah engkau tertawa berlebihan, karena sikap berlebihan akan mengaburkanmu pada situasi sesungguhnya, ia akan membawa jiwamu pada rasa lemah dan ragu� begitu nasihat Daryatmo setelah  Pak Harto menggambarkan apa yang ia rasakan setelah ia bertemu Kyai Daryatmo setelah Indonesia Merdeka pada tahun 1946, saat itu Harto jadi Komandan Militer Yogyakarta yang baru saja merebut gudang senjata di Kotabaru Yogya. Pak Harto hanya menangis dua kali, saat kerbaunya terperosok di pematang sawah dan saat isterinya meninggal.

Hasil gambar untuk soeharto

Berikut Adalah Kegiatan Soeharto Yang Berkaitan dengan Dunia Spiritual :

1. Gemar Bertapa
Soeharto adalah penganut setia tradisi leluhurnya. Karenanya tak heran jika Pak Harto menggunakan filosofi Jawa dalam kepemimpinannya. Dalam buku 'Dunia Spiritual Soeharto', Arwan Tuti Artha, diceritakan Pak Harto banyak mengunjungi tempat-tempat keramat untuk bertapa. Ritual itu dilakukan Pak Harto untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa tunggal di Indonesia saat itu. Tempat-tempat spiritual itu beberapa di antaranya adalah; Padepokan Lang Lang Buana Gunung Srandil di Cilacap, Kali Garang, Sampangan Semarang, makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwaharjo, Berbah, Sleman dan lain-lain. Masyarakat di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Cilacap, mengaku sering melihat rombongan kepresidenan yang dipimpin Pak Harto mendatangi tempat pemujaan Jambe Pitu yang terdapat di desa tersebut. Penguasa Orde Baru ini selalu datang didampingi seorang guru spiritual kepercayaannya yang berasal dari Semarang yang bernama Romo Diyat.

2. Pecinta Keris Pusaka
Sebagai pria Jawa, Pak Harto sangat mencintai benda-benda pusaka. Dalam buku 'Misteri Pusaka-pusaka Soeharto' karya Ki Juru Bangunjiwo, diceritakan Pak Harto sangat mencintai benda pusaka. Keris menjadi pusaka yang paling berarti bagi Pak Harto. Makna pusaka keris sebagai piyandel dan diwujudkan dalam sifat kandel. Piyandel artinya bahwa keris merupakan sebuah keyakinan akan sebuah harapan, doa, dan cita-cita yang ditorehkan dan disimpan untuk diteruskan kepada anak cucunya. Soeharto juga meyakini, keris melambangkan pentingnya keprihatinan dalam kehidupan ini. Sehingga anugerah yang turun bukan untuk diri sendiri, tetapi bagi keturunannya.

3. Tidur di Titisan Luar Rumah
Soeharto dikenal sebagai seorang Presiden Indonesia yang mempercayai dunia mistis. Sejak kecil, Pak Harto sudah mempelajari spiritual, salah satunya dari ayah tirinya Atmopawiro. Salah satu ilmu spiritual yang dijalankan Pak Harto adalah tidur di tritisan atau di bawah ujung atap di luar rumah. Pak Harto juga rajin menjalankan puasa Senin Kamis. "Pada masa itu saya ditempa mengenal dan menyerap budi pekerti dan filsafah hidup yang berlaku di lingkungan saya. Mengenal agama dan tata cara hidup Jawa," kata Soehartodalam biografi 'Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH. Sebagai pria Jawa, Pak Harto benar-benar menghayati soal penghormatan terhadap harmoni dan keselarasan hubungan antara manusia dan alam semesta.

4. Dekat dengan Ilmu Kebatinan
Selain menyukai benda pusaka, Pak Harto sangat mempercayai dunia kebatinan. Pak Harto percaya hubungan manusia harus harmonis dan selaras dengan alam semesta. Dalam buku biografi 'Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, penguasa Orde Baru itu mengakui kedekatannya dengan ilmu kebatinan. Namun, jenderal besar itu menampik jika ilmu kebatinan disamakan dengan klenik. Menurutnya, ilmu kebatinan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan yang Maha Esa. "Sesuai dengan peninggalan nenek moyang kita. Ilmu kebatinan itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mendekatkan batin kita kepada-Nya. Orang kadang-kadang salah kaprah, mengira ilmu kebatinan itu ilmu klenik," kata Soeharto.

Sumber: http://seremabis.blogspot.co.id/

vehicles

[suami][stack]

Pengalaman

[Pengalaman][stack]

Renungan

[renungan][stack]