Kisah Soichiro Honda, Sukses Setelah Gagal Berulang Kali

biografi, Kisah Sukses, kisah inspiratif, soichiro honda

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia terus bermimpi dan bermimpi.

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik itu mobil maupun motor. Merk kendaraan ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga dijuluki �raja jalanan�.

Namun, pernahkah Anda tahu, jika sang pendiri �kerajaan� Honda � Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI.

Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

�Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,� tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap penyakit lever.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin �warisan� dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya untuk menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, dan juga tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja di Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.

Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih?

Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

�Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, � ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah, melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Piston Honda diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Namun malang, niatnya itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang, setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pistonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, �sepeda motor� cikal bakal lahirnya mobil Honda itu diminati oleh para tetangga.

Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi �raja� jalanan dunia.

Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilannya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. �Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya�, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpi kan lah mimpi baru.

******
Kisah  Soichiro Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.

Artikel di atas adalah hasil saduran dan kutipan dari berbagai tulisan baik media cetak maupun elektronik. Tulisan tersebut dimaksudkan untuk sharing motivasi, inspirasi, kisah hidup dan lain-lain.

Pilihan Aliya

Sembilan tahun lalu, saya berdansa bersama putri saya yang baru lahir di ruang tamu saya di North Carolina mengikuti music Free to Be� You and Me, sebuah lagu anak klasik tahun 70-an yang lirik penuh pesan toleransi dan kesetaraan jendernya saya hapal betul karena tumbuh besar di California.

Suami saya yang kelahiran Libya, Ismail, duduk bersamanya selama berjam-jam di teras berkawat nyamuk kami, mengayunnya di atas sebuah ayunan besi berkeriat-keriut dan menyanyikannya lagu-lagu rakyat Arab, lalu membawanya ke seorang syekh Muslim yang membacakan doa panjang umur ke telinga kecilnya yang lembut.


Ia memiliki mata gelap dan bulu mata hitam seperti ayahnya, dan kulit coklatnya cepat sekali menjadi semakin gelap di bawah terik matahari musim panas. Kami menamainya Aliya, yang bermakna �dimuliakan� dalam bahasa Arab, dan sepakat akan membiarkannya memilih yang paling cocok di antara latar belakang kami yang sangat berbeda.

Diam-diam saya berpuas diri atas kesepakatan ini � yakin putri saya akan cenderung mengikuti gaya hidup Amerika saya yang nyaman dibandingkan asuhan ayahnya yang sederhana. Orangtua Ismail tinggal di sebuah batu kecil di gang-gang tanah berliku di luar Tripoli, Libya. Tembok-temboknya kosong, hanya berhiaskan ayat Qur�an yang dipahat ke kayu; lantainya kosong, hanya ada alas duduk tipis yang juga digunakan sebagai alas tidur.

Orangtua saya tinggal di sebuah rumah megah di Santa Fe, New Mexico, lengkap dengan garasi berkapasitas tiga mobil, televisi layar datar dengan ratusan saluran, makanan organik di kulkas, dan selemari penuh mainan untuk para cucu.





Saya membayangkan Aliya akan berbelanja ke Whole Foods dan mempersiapkan tumpukan hadiah di bawah pohon Natal, sambil tetap menikmati melodi Arab, baklava berlumur madu buatan tangan Ismail, dan tato henna rumit yang digambarkan tantenya di kaki saat kami mengunjungi Libya. Tidak sekalipun saya pernah membayangkan ia jatuh hati pada penutup kepala yang dikenakan para gadis Muslim sebagai ekspresi kesantunan.

Musim panas lalu, kami sedang merayakan berakhirnya Ramadhan bersama komunitas Muslim di sebuah festival yang diadakan di tempat parkir mobil masjid setempat. Anak-anak melompat-lompat di dalam rumah balon, sementara para orangtua duduk di bawah lindungan terpal, sambil mengusir lalat dari berpiring-piring ayam kari, nasi, dan baklava.

Saya dan Aliya berjalan-jalan melewati berbagai penjual sajadah, tato henna, dan busana Muslim. Saat mencapai sebuah meja yang memajang penutup kepala, Aliya berbalik ke arah saya dan memohon, �Bu, saya boleh beli satu ya?� Ia memilih-milih di antara tumpukan kerudung yang terlipat rapi sementara penjualnya, seorang wanita Afrika-Amerika berbalut busana hitam, berseri-seri memandang Aliya.

Baru-baru ini saya melihat Aliya melemparkan tatapan kagum pada gadis-gadis Muslim seusianya. Diam-diam saya mengasihani mereka, yang terbungkus rok yang menyapu lantai dan lengan panjang, bahkan pada hari-hari terpanas. Kenangan masa kecil terbaik saya adalah saat berjemur di bawah matahari: merasakan rerumputan di antara jemari saat berlarian di bawah siraman air di halaman depan; mencelupkan kaki di sungai yang dingin di Idaho, celana pendek tergulung hingga paha, untuk menangkap ikan forel pelangi pertama saya; berselancar di atas ombak hijau di tepi pantai Hawaii. Namun Aliya justru iri pada gadis-gadis ini dan sudah meminta saya membelikannya pakaian seperti mereka. Dan kini, ia meminta selembar kerudung.

Sebelumnya, saya akan beralasan sulit mencari kerudung, tetapi kini ia mengatakan akan membelanjakan uang saku $10-nya untuk membeli selembar kain rayon hijau tua yang ia genggam. Saya sudah mulai menggelengkan kepala, tetapi kemudian menghentikan diri dan mengingat komitmen saya pada Ismail. Jadi saya menahan diri dan membelinya, seraya berpikir ia akan segera melupakan kain tersebut.

Siang itu, saat saya akan berangkat ke supermarket, Aliya berseru dari dalam kamar mengatakan bahwa ia ingin ikut.

Beberapa saat kemudian ia muncul di puncak tangga � atau, lebih tepatnya, setengah dirinya muncul di puncak tangga. Dari pinggang ke bawah, ia adalah putri saya: sepatu kets, kaus kaki terang, celana jins yang agak belel di bagian lutut. Namun dari pinggang ke atas, ia adalah orang asing.

Wajah bulat cerahnya muncul di antara kain gelap seperti bulan di langit tanpa bintang.

�Kamu mau pakai itu?�

�Iya,� sahutnya perlahan, dengan nada yang mulai ia gunakan terhadap saya belakangan ini.

Dalam perjalanan ke supermarket, saya mencuri pandang ke arahnya melalui spion tengah. Ia memandang ke luar jendela, tampak sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak peduli dengan sekitarnya, seakan ia adalah seorang pembesar Muslim yang sedang mengunjungi kota kecil kami di bagian Selatan � saya hanyalah supirnya.

Saya menggigit bibir. Saya ingin memintanya melepaskan penutup kepalanya sebelum keluar dari mobil, tetapi tidak bisa menemukan satupun alasan mengapa, kecuali bahwa kain tersebut membuat tekanan darah saya naik. Saya selalu mendorongnya untuk mengekspresikan individualitasnya dan bertahan dari tekanan pergaulan, tetapi kini saya merasa sama minder dan sesaknya seakan sayalah yang mengenakan kerudung tersebut.

Di tempat parkir supermarket, udara musim panas yang pekat menyergap kulit saya. Saya mengekor kuda rambut lembab saya, tetapi Aliya tampak tidak sadar akan panasnya. Kami pasti terlihat seperti aneh berdua: wanita tinggi berambut pirang dalam balutan baju kutung dan jins menggenggam tangan seorang Muslim setinggi 1,2 m. Saya menarik putri saya mendekat dan kulit di lengan telanjang saya merinding � baik karena rasa protektif juga hantaman utara berpendingin saat memasuki toko.

Saat kami membawa troli menjelajah lorong-lorong tempat belanja, pengunjung lain menatap kami seakan kami adalah teka-teki yang tidak bisa mereka pecahkan, dan buru-buru memalingkan muka saat saya menangkap tatapan mereka.

Di lorong bahan makanan, seorang wanita yang sedang meraih sebuah apel memberi saya senyum khawatir yang terlalu riang, yang bermakna: �Saya menerima perbedaan dan tidak bermasalah dengan anak Anda.� Ia terlihat sangat bersungguh-sungguh, begitu berhasrat membuat saya merasa nyaman, hingga tiba-tiba saya memahami bagaimana rasanya memiliki anak dengan difabilitas yang jelas, dan semua rasa penasaran atau simpati orang asing yang tidak diinginkan yang timbul karenanya.

Di kasir, seorang wanita Selatan paruh baya menyatukan kedua tangan kurusnya dan membungkuk perlahan ke arah Aliya.

�Wah, wah,� gumamnya sambil menggelengkan kepala penuh ketidakpercayaan. �Kamu terlihat sangat manis!� Putri saya tersenyum sopan, kemudian berbalik ke arah saya untuk meminta sebungkus permen karet.

Pada hari-hari selanjutnya, Aliya mengenakan kerudungnya untuk sarapan sambil masih mengenakan piyama, untuk pergi ke acara kumpul-kumpul Muslim di mana ia dibanjiri pujian, dan untuk ke taman, tempat para ibu berbincang dengan saya penuh kehati-hatian, berusaha tidak membicarakan kerudungnya.

Belakangan di pekan yang sama, di kolam renang setempat, saya memperhatikan seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua daripada Aliya bermain tenis meja dengan seorang anak lelaki seusia. Ia sedang berada dalam masa canggung antara masa kanak-kanak dan remaja � pinggul kecil, kaki kurus, payudara yang tumbuh samar � dan ia mengenakan bikini tali.

Lawannya mengenakan kaus dan celana pendek kebesaran yang jatuh di bawah lututnya. Saat si anak lelaki memukul bola, si anak perempuan mengejarnya sambil berusaha, dengan satu tangan, menjaga tali licin spandeksnya agar tidak melorot. Saya ingin menawarkan handuk untuk membungkus bagian bawah tubuhnya agar ia bisa berkonsentrasi dalam permainan dan merasakan kesenangan membuat pukulan yang sempurna.

Mudah saja mengetahui mengapa ia bisa dihabisi dalam permainan ini: tubuhnya yang hampir telanjang menguasai fokusnya. Dan pada ekspresi kerepotannya saya mengenali campuran akrab rasa malu dan semangat yang saya rasakan saat pertama kali mengenakan bikini.

Pada usia 14 tahun, saya berjalan di lorong-lorong sekolah menengah seperti tupai dalam lalu lintas: menempel ke dinding, mengubah arah tiba-tiba, mencari perlindungan. Kemudian saya pergi ke Los Angeles untuk mengunjungi Tante Mary pada libur musim dingin. Mary mengoleksi putri duyung, menyimpan foto hitam putih guru India-nya yang berambut panjang, dan berbelanja di toko makanan sehat kecil yang beraroma nilam dan selai kacang. Ia mengajak saya ke Pantai Venice, di mana saya membeli bikini murah dari penjual jalanan.

Dipenuhi semangat menyambut siang yang cerah, saya kira saya bisa jadi orang lain � dengan tubuh mengkilap dan bangga seperti binaragawan di kebun, santai dan tidak acuh seperti para hippy yang bersantai di jalan setapak dengan dupa menyala terselip di belakang telinga. Di kamar mandi tepi pantai berlantai semen berpasir, saya berganti mengenakan pakaian renang baru.

Saya merasa seluruh tubuh saya merinding; saya merasa tidak berdaya dan tidak terlindungi seperti seekor kura-kura yang dikeluarkan dari cangkangnya. Dan saat meninggalkan kamar mandi, pandangan para pria terasa menahan saya di satu titik.

Terlepas dari rasa aneh dan malu yang semakin besar, saya terpaku pada cengiran mereka; saya merasa menemukan kunci penting misteri diri dalam ekspresi mereka. Apa yang dilihat para pria ini pada saya? Kekuatan aneh apa ini yang ada antara kami, yang dengan cepat membuat saya merasa bekuasa satu detik dan begitu rapuh di detik berikutnya?

Saya membayangkan Aliya dalam balutan bikini tali beberapa tahun lagi. Kemudian saya membayangkannya dalam balutan busana Muslim. Sulit mengatakan mana yang lebih tidak mengenakkan. Kemudian saya memikirkan sesuatu yang pernah dikatakan seorang teman Muslim Sufi: Sufi meyakini bahwa inti diri kita memancar keluar tubuh fisik kita � bahwa kita memiliki semacam kulit kedua yang energik, yang sensitif dan dapat menyerap orang-orang yang kita temui. Pria dan wanita Muslim mengenakan busana santun, ujarnya, untuk melindungi ruang bertenaga antara mereka dan dunia ini.

Tumbuh besar di California Selatan pada tahun 70-an, saya belajar bahwa kebebasan bagi wanita artinya, antara lain, lebih sedikit bahan, dan bahwa wanita bisa jadi apapun � dan masih terlihat bagus dalam balutan bikini. Menjelajahi kebebasan fisik adalah bagian penting dalam penemuan jati diri saya, tetapi memiliki nilai tersendiri.

Sejak hari itu di Pantai Venice, saya menghabiskan bertahun-tahun belajar berenang dalam pusaran daya tarik: menginginkan rasa diidamkan, menolak pendekatan yang tidak diinginkan, menggali kedalaman misterius kerinduan saya sendiri. Saya menghabiskan berjam-jam memperhatikan pantulan diri sendiri di cermin � mengaguminya, membencinya, mengira-ngira apa yang orang lain pikirkan tentangnya � dan terkadang saya berpikir jika saja saya melakukan pengamatan menyeluruh yang sama terhadap subyek lain, saya bisa tercerahkan, menulis novel, atau setidaknya mengetahui cara membuat kebun sayur organik.

Pada suatu Sabtu pagi baru-baru ini, di dalam sebuah ruang ganti pusat perbelanjaan yang penuh sesak, saya mencoba jins buatan desainer bersama mahasiswi bersepatu hak tinggi runcing, ibu-ibu muda dengan bayi yang rewel, wanita paruh baya dengan bibir mengkilap yang mengerucut. Satu demi satu kami memasuki ruang ganti, kemudian berbaris untuk mendapat giliran berdiri di atas alas, dikelilingi cermin, menekuk pinggul dan menahan perut serta menjulurkan leher untuk memandangi bokong kita.

Saat giliran saya tiba, hati saya merasa berat. Wajah saya terlihat pucat di bawah cahaya lampu, dan tiba-tiba saya merasa kelelahan atas tahun-tahun yang saya habiskan mengejar setitik perbaikan diri, sambil membawa-bawa kritik tajam pada diri sendiri.

Saat ini, Aliya memiliki ketertarikan mendalam terhadap dunia di sekitarnya, bukan pada apa yang dilihatnya di cermin. Musim panas lalu ia berdiri di tepi Blue Ridge Parkway, memandang ke garis biru hitam pegunungan di kejauhan dengan puncak digayuti awan kapas, dan terkesiap. �Ini adalah hal terindah yang pernah saya lihat,� bisiknya. Matanya yang terbuka lebar adalah cerminan keindahan di hadapannya, dan ia berdiri begitu diam hingga terlihat bersatu dengan lansekap nan luas, hingga akhirnya kami memecahkan lamunannya dengan menariknya kembali ke mobil.

Lain lagi di sekolah. Di kelas empat, anak-anak perempuan seusianya telah menghubungkan busana dengan popularitas. Beberapa pekan lalu, dengan penuh kemarahan ia bercerita tentang seorang teman sekelasnya yang mengukur semua anak perempuan di kelas berdasarkan betapa bergayanya mereka.

Saat itu saya paham bahwa meski paparan fisik telah memerdekakan saya dalam beberapa hal, Aliya bisa saja menemukan jenis kebebasan yang sama sekali berbeda dengan memilih menutupi tubuhnya.

Saya tidak tahu berapa lama ketertarikan Aliya pada busana Muslim akan bertahan. Jika ia memilih untuk memeluk Islam, saya yakin keyakinannya akan mengajarinya toleransi, kerendahan hati, dan rasa keadilan � sebagaimana yang agama tersebut ajarkan pada ayahnya. Dan karena saya memiliki hasrat kuat untuk melindunginya, saya juga akan mengkhawatirkan kalau-kalau pilihannya membuat hidupnya sulit di negaranya sendiri. Baru-baru ini ia menghapal fatihah, ayat pembukaan di Qur�an, dan ia menekan ayahnya untuk mengajarinya bahasa Arab. Ia juga menjelma menjadi pesepeda gunung yang gesit yang bersepeda bersama saya di jalur-jalur hutan, dengan lumpur memenuhi betisnya saat bersepeda melintasi anak sungai besar.

Sebelumnya saat saya mengantarnya ke sekolah, bukannya buru-buru pergi seperti biasanya, saya memperhatikannya berjalan di antara kerumunan anak-anak, punggung membungkuk karena berat ranselnya membuatnya terlihat sedang menerjang badai. Ia bergerak penuh kepastian, dalam kesendiriannya, sangat berbeda dengan saya saat seusianya, dan sekali lagi saya menyadari betapa misteriusnya ia bagi saya.

Bukan hanya penutup kepalanya yang membuatnya misterius: tetapi juga ketidakpeduliannya akan pendapat orang tentangnya. Juga ketika saya menemukan tumpukan permen Halloween yang tidak tersentuh di lacinya, padahal saat kecil saya terobsesi pada permen. Juga kenyataan bahwa ia lebih memilih menyelam ke dalam sebuah buku daripada ke laut; bahwa ia begitu terpikat pada bacaannya hingga tidak bisa mendengar saya memanggil dari kamar sebelah.

Saya melihatnya berlutut di pintu masuk sekolahnya dan menarik selembar kain yang terlipat rapi dari kantung depan tasnya, sementara anak-anak lain memasukkan permen karet atau pengilap bibir. Kemudian ia memasang kain tersebut di kepalanya, dan pundaknya tersembunyi di balik kain seperti jubah yang digunakan adiknya saat berpura-pura menjadi pahlawan super.

Saya membayangkan kerudung itu memiliki kekuatan ajab untuk melindungi imajinasinya yang tanpa batas, persepsinya yang tajam, dan kebaikannya yang tanpa batas. Saya membayangkan kerudung itu membentenginya dalam perjalanan melintasi rumah kaca tempat di mana banyak wanita muda terperangkap dalam keremajaan, menjaganya dari ketidakpuasan, tidak peduli sebanyak apapun pilihan yang kita punya, memberinya perlindungan saat ia menggapai masa depan yang tidak saya ketahui.

-----------------------------------------------------------
Penulis Amerika penerima penghargaan Krista Bremer menikah dengan seorang Muslim kelahiran Libya. Esai pribadi yang ditulis secara tajam berasal dari hatinya dan disampaikan dengan pemikiran terbuka yang cerdas dalam gaya santai yang memerangkap pembaca di seluruh dunia. Cuplikan kehidupan bikulturnya juga membuatnya memiliki penggemar di kalangan Muslim yang memahami cobaan dan kebahagiaan yang Krista, simbol wanita urban � percaya diri, sukses, toleran, kuat, dan cerdas � hadapi dalam kesehariannya bersinggungan dengan Islam dan kehidupan modern. Ia penerima penghargaan Pushcart Prize 2008 dan Rona Jaffe Foundation Writers� Award 2009, seorang rekan penerbit di majalah sastra The Sun, dan sedang menulis memoir pernikahan bikulturnya.

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi September/Oktober 2011



Cinta Sejatiku

Cinta SejatikuOrang yang mencintaimu dengan tulus itu,
Bukanlah orang yang sekedar tau apa yang kamu suka dan kamu benci,Tapi dia adalah orang yang mengerti apa yang terbaik buat kamu.

Bukan orang yang sengaja perhatian sama kamu,
Tapi orang yang selalu mengerti keadaanmu...


Bukan orang yang ingin memiliki kamu,
Tapi orang yang rela kehilangan kamu demi kebahagianmu.

Bukan orang yang hanya ingin menyentuhmu,
Tapi orang yang ingin memuliakanmu.

Dan dia bukanlah orang yang suka dengan keindahan yang ada pada dirimu,
Tapi orang yang mau menerima kamu dengan apa adanya, agar menjadi lebih indah.

Yang mencintai kamu bukanlah dia yang selalu berkata mesra dihadapanmu.
Bukan dia yang selalu mengatakan seberapa besar dia mencinta kamu...

Tapi...
Yang mencintai kamu adalah dia yang selalu mengkhawatirkanmu.
Dia yang selalu ingin tau kabarmu.
Dia yang selalu ingin membuatmu bahagia.
Dia yang selalu mengerti perasaan kamu tanpa harus kamu pinta.
Dia yang tak pernah menuntun cinta kamu untuk diperlihatkannya.
Dia yang tak pernah ingin membuat kamu menangis karenanya.

Karena ketulusan cinta tidak perlu diperlihatkan didepan orang banyak agar mereka tau bahwa kamu cintanya.

Melainkan gimana ia mampu membuktikan seperti apa ia mampu setia dan melindungi serta bertanggung jawab
untuk menghalalkanya.

Bukan cuma sekedar cinta pelampiasan semata.


Bersikap Baik dan Bijak

Bersikap Baik dan Bijak
Di suatu sore, nampak Pertapa Muda bermeditasi di bawah pohon di tepi Sungai. Saat konsentrasi, tiba-tiba perhatiannya terpecah kala terdengar Gemericik air yang tidak beraturan.

Perlahan Ia buka mata dan melihat ke sumber suara.

Ternyata, ada seekor Kepiting yang berusaha keras tuk raih tepian sungai agar tak hanyut oleh derasnya arus...
Melihat itu, sang Pertapa merasa iba, Ia'pun segera ulurkan tangan ke arah Kepiting.

Dengan SIGAP si Kepiting menjepit jari si Pertapa muda.

Meski jarinya terluka, hatinya SENANG karna bisa menyelamatkan si Kepiting.

Kemudian, Dia lanjutkan Pertapaannya. Namun saat Ia mulai bermeditasi, terdengar lagi suara yang sama dari tepi sungai.

Ternyata si Kepiting terpeleset kembali, dengan CEPAT si Pertapa kembali ulurkan tangan & biarkan jarinya di capit kembali.

Kejadian itu berulang, yang buat tangan si Pertapa Bengkak & membiru.

Ternyata ada seorang Kakek yang memperhatikan kejadian itu, lalu Beliaupun mendekati sang Pertapa.

"Anak muda, Perbuatanmu adalah cerminan HATIMU yang Baik. Tapi, mengapa demi menolong Kau biarkan capit Kepiting itu melukai tanganmu?" Ujar si Kakek.

"Kakek, biarlah tanganku terluka asal si Kepiting Selamat, karna hanya dengan mencapitlah caranya tuk selamat" Jawab si Pertapa

Kemudian sang Kakek memungut sebatang ranting. Ia lantas ulurkan ranting itu ke arah Kepiting yang terlihat kembali melawan arus. Si Kepitingpun menangkap ranting itu dengan capitnya.

"Lihatlah Pemuda, Melatih Sikap Belas Kasih itu memang BAIK, tapi harus BIJAK. Bila tujuan Kita Baik, tuk MENOLONG, mengapa Harus korbankan Diri Sendiri, Banyak Hal lain yang bisa di manfaatkan, kan?" Imbuh si Kakek.

Akhirnya si Pemudapun sadar.

"Terima kasih Kek atas segala Ilmu yang Berharga ini"

Berbuat Baik itu adalah PERBUATAN MULIA. Namun CARANYAPUN harus Baik & BIJAK.

Semoga bermanfaat.


Kategori

Kategori